Rabu, 07 Maret 2012

Post-Partum Blues Syndrome: Permasalahan pada Berbagai Etnis

DEFINISI
Post-Partum Blues Syndrome merupakan perubahan emosional ibu pasca melahirkan kurang lebih 72 jam / minggu pertama. Perasaan yang timbul lebih cenderung pada perasaan tidak nyaman dalam dirinya maupun terhadap bayinya masa tersebut. Namun, jika melebihi waktu tersebut, ada kemungkinan akan berubah menjadi salah satu bentuk depresi maupun psikosis terhadap bayi / kelahiran.

Metode yang dapat digunakan untuk mengatasi baik syndrome maupun depresi, yaitu psikoterapi, pengobatan anti depresan, maupun kombinasi diantara keduanya. Kasus ini mungkin bisa berulang pada individu yang sama setelah beberapa kali kelahiran pasca diketahui mengidap syndrome ini dan mungkin dapat menimbulkan dampak yang serius jika tidak ditangani

Di Indonesia sendiri banyak kasus penganiayaan terhadap balita, mulai menelantarkan anaknya di rumah, baik itu memukuli, bahkan yang lebih kejam lagi ialah ibu yang"Mengajak" buah hatinya untuk mati bersamanya. Caranya ada yang dibunuh dulu anaknya baru si ibu bunuh diri dengan menggunakan racun, ada juga yang menggunakan senjata tajam sebagai alat untuk mengakhiri nyawa anaknya.

Mungkin di Indonesia sendiri tidak terlalu populer, karena kesadaran yang kurang akan kesehatan dan kesejahteraan mental yang kurang dalam masyarakat Indonesia sendiri, dan cenderung menganggap bahwa kehamilan dan kelahiran adalah proses besar yang dinanti-nanti. Namun, tidak memperhatikan emosional sang ibu yang bisa saja terbentuk selama proses kehamilan. Kecemasan yang terbentuk selama proses kehamilan, selain itu secara faali, perubahan hormon pasca keluarnya plasenta juga turut mempengaruhi syndrome ini.

FAKTOR PENDORONG
1. Faktor hormonal, berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estriol yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan, ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase. Yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi baik noradrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi
2. Faktor demografik yaitu umur dan paritas
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan
4. Takut kehilangan bayi, bayi sakit
5. Takut untuk memulai hubungan suami istri, anak akan terganggu.
6. Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti; tingkat
pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya atau timbul permasalahan, misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orang tua dan mertua, problem dengan si anak sebelumnya.

GEJALA KLINIS
Gejala – gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. Gejala tersebut biasanya muncul pada hari ke-3 atau 6 hari setelah melahirkan. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia, penakut, tidak mau makan, tidak mau bicara, sakit kepala sering berganti mood, mudah tersinggung (iritabilitas),merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan, tidak bergairah, khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati, tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan, merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja Anda lahirkan , insomnia yang berlebihan. Gejala – gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun jika masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression.
Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%, yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

TES INDIKATOR
Untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. Cox et. Al., mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian. 

PERAWATAN TERHADAP KLIEN
Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang ‘ berjuang ‘ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya
Untuk minta pertolongan, seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.
Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut.
Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.
Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru
Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan juga teman dekatnya.  

Untuk lebih jelasnya, silahkan Download link dibawah ini: 
Video Baby-Blues Syndrome di US

Senin, 13 Juni 2011

Nilai Psikologi Umum II

mohon maaf sebelumnya, untuk nilai Psikologi Umum II belum dientry oleh PTIK, Insya'allah konfirm ke PTIK hari rabu, namun kemarin bu Dyah sudah memberikan rincian nilai kepada saya, di dalam ini hanya nilai UTS dan UAS, jadi untuk kriteria lain tolong menghubungi bu Dyah secara langsung. trimakasih dan untuk daftar nilai tolong dilihat di link berikut.daftar nilai psikologi umum II

Minggu, 29 Mei 2011

Nilai Psikologi Perkembangan 2

NILAI AKHIR PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 2
No Absen
Nama Mahasiswa
PR
Wwcr
UTS
UAS
Total
Huruf
20%
20%
30%
30%
1
EKA NURCAHYANI
86
85
86
95
88,50
A
2
AJENG HARLIKA PUSPITASARI
86
82
80
95
86,10
A
3
NURBAITI ROHMANI
86
85
85
90
86,70
A
4
ELYANA DWI RATNASARI
80
80
74
82
78,80
B+
5
PRAMITA ARIWIJAYANTI
80
80
56
90
75,80
B+
6
KARINA RISTI
80
75
72
82
77,20
B+
7
RAHMAN HADZIQ
79
78
71
81
77,00
B+
8
NINDA ATIKA
82
78
66
90
78,80
B+
9
MOH. INDRA ALFANANI
80
75
62
64
68,80
B-
10
AFRISKA YUNI A
79
79
86
92
85,00
A
11
ARYANI PAMUKTI
86
80
83
93
86,00
A
12
INDRA ZAKARIA
80
76
73
74
75,30
B+
13
MOCH, MAHFUD ALI
78
78
74
66
73,20
B
14
DHIAN PRATIWI DHARMA
82
79
82
93
84,70
A-
15
ARYA KRISNANDA
78
80
83
77
79,60
B+
16
FENI DWI PRATIWI
79
75
93
91
86,00
A
17
ANGGA YUNI MANTARA
80
76
66
72
72,60
B
18
HARWANTO
79
80
89
87
84,60
A-
19
CANDRA WIBIAKSA
79
80
70
77
75,90
B+
20
ANDHIKA PRASETYA W
80
85
77
78
79,50
B+
21
MEIDA PUSPITA RAHAYU
79
75
83
86
81,50
A-
22
WAHYU RATNA LEILA
79
82
88
94
86,80
A
23
SIGIT HANDOYO
80
60
85
46
67,30
B-
24
MOCH. REZA PAHLEFI
80
79
69
72
74,10
B
25
DINA TRISNAWARI
80
79
80
94
84,00
A-
26
SANDHY AGUNG PRASOJO
80
80
81
85
81,80
A-
27
KHARISMA PUTRI A
82
75
78
0
54,80
D
28
DANANG INDRAWAN
80
75
78
66
74,20
B
29
FRIKA NUNGKI P
82
78
79
0
55,70
C
30
FAJAR AKHMAD SUGITO
79
79
83
74
78,70
B+
31
REGA AUDIA
80
78
86
88
83,80
A-
32
LUSI SEPTIYANTI
78
77
68
0
51,40
D
33
NURUL FAJAR PUJI LESTARI
85
78
80
76
79,40
B+
34
AGNESYA FORTUNELA C
86

77
81
64,60
C+
35
MALINDA ROSDIANA
85
83
80
88
84,00
A-
36
YOHANES DEDI K
80
75
64
84
75,40
B+
37
DEWO AGUNG NUGROHO
79
79
75
85
79,60
B+
38
PRIMANDA NAYU
80
76
65
0
50,70
D
39
MELLY AMALIA VARDIA
82
81
77
94
83,90
A-
40
OKTAVIANI DWI RAHAYU
85
77
83
86
83,10
A-
41
DIAN BAGUS MITREKA S
79
75
82
72
77,00
B+
42
CHOIRUL FARUQI
80
75
80
57
72,10
B
43
NOVA RAHMA
79
79
83
91
83,80
A-
44
EILA ANDINA S
85
79
92
81
84,70
A-
45
DESRINO YOGA AGUSTA
80
79
93
92
87,30
A
46
RISKA WULANDARI
86
82
78
94
85,20
A
47
HILMAN FATHTHAN
78
75
55
70
68,10
B-
48
TIA CANDRA LESTARI
85
83
83
72
80,10
A-
49
AGUS HADI WIYANTO
80
80
90
89
85,70
A
50
ALAM BAKHTIAR
79
78
72
86
78,80
B+
51
IRMAN SYAHRUL
80
80
84
73
79,10
B+
52
SRI ANDAYANI
85
81
72
94
83,00
A-
53
NOVA ISTATHI' M
82
70
79
83
79,00
B+
54
SUSAN OKTAVIANI P
80
78
83
92
84,10
A-
55
MONICA PRATIWI
78
75
72
0
52,20
D
56
PUTRI AYU RAHAYU
80
77
72
65
72,50
B
57
DITA KUSUMAWARDANI
80
79
64
81
75,30
B+
58
WILDAN MUKHOLADUN
80
79
64
78
74,40
B
59
MUHAMMAD HOKY FEBBI
78
76
71
73
74,00
B

Konversi Nilai Akhir :
85 – 100 : A                                         80 – 84 : A-
75 – 79 : B+                                         70 – 74 : B
65 – 69 : B-                                          60 – 64 : C+
55 – 59 : C                                            40 – 54 : D
0 – 39 : E

NB : Tolong dicek ulang agar tidak ada kesalahan hitung. Bagi yang tidak berkenan dengan nilainya, dapat menghubungi saya di 081803213707 di jam yang masuk akal… J Sebelum hari Senin, 30 Mei 2011 jam 09.00 WIB. Di luar itu, protes ditolak. Terima kasih.
TTD,
Pravissi Shanti 

Jika kurang jelas, silahkan di download melalui link dibawah ini :